Ada sebuah fakta medis yang cukup mengejutkan sekaligus menjadi alarm keras bagi kita semua sebagai orang tua.
Berdasarkan data dari PROGRAM Cek Kesehatan Gratis (CKG), ditemukan sebanyak 663 ribu anak usia sekolah di Indonesia mengalami tekanan darah tinggi (hipertensi). Tim medis menyebut temuan ini sebagai fenomena baru yang patut diwaspadai secara serius.
Tekanan darah tinggi pada usia dini berpotensi besar berkembang menjadi penyakit kronis di masa depan, termasuk gangguan jantung. Sayangnya, tanpa adanya deteksi dini yang rutin, kondisi berbahaya ini sering kali luput dari perhatian kita sebagai orang tua maupun pihak sekolah karena gejalanya yang jarang terlihat secara kasat mata.
Lantas, apa yang harus kita lakukan? Berdasarkan panduan resmi dari Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), berikut adalah langkah penting yang wajib kita pahami:
⏱️ Kapan Harus Mengukur Tekanan Darah pada Anak?
Jangan tunggu sampai anak menunjukkan gejala sakit. Lakukan skrining tensi jika anak berada di kondisi berikut :
- Anak Usia >= 3 Tahun: Sudah mulai bisa diukur tekanan darahnya secara berkala.
- Anak Usia < 3 Tahun (Jika memiliki faktor risiko):
- Lahir prematur (< 32 minggu)
- Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
- Memiliki riwayat perawatan di ruang NICU
- Mengidap Penyakit Jantung Bawaan
- Memiliki riwayat kelainan ginjal atau Infeksi Saluran Kemih (ISK) berulang
- Ada riwayat keluarga dengan kelainan ginjal bawaan
- Memiliki riwayat keganasan (kanker/tumor)
- Ada riwayat keluarga yang harus cuci darah di usia muda
- Lahir prematur (< 32 minggu)
- Bayi Berat Lahir Rendah (BBLR)
- Memiliki riwayat perawatan di ruang NICU
- Mengidap Penyakit Jantung Bawaan
- Memiliki riwayat kelainan ginjal atau Infeksi Saluran Kemih (ISK) berulang
- Ada riwayat keluarga dengan kelainan ginjal bawaan
- Memiliki riwayat keganasan (kanker/tumor)
- Ada riwayat keluarga yang harus cuci darah di usia muda
🩺 Apa yang Harus Dilakukan Jika Anak Terdiagnosa Hipertensi?
Jika si kecil ternyata memiliki tekanan darah tinggi, jangan panik dulu, Bun/Yah. Langkah-langkah penanganan yang tepat dari IDAI meliputi:
- Kontrol secara teratur ke dokter spesialis anak.
- Minum obat hipertensi secara disiplin sesuai dengan indikasi dan resep dari dokter.
- Rutin melakukan aktivitas fisik dan olahraga yang aman untuk anak.
- Menerapkan pola Diit (Diet) sehat:
- Perbanyak konsumsi buah dan sayur.
- Pilih produk susu yang rendah lemak.
- Utamakan konsumsi gandum utuh.
- Berikan sumber protein dari ikan, unggas, kacang-kacangan, dan daging merah tanpa lemak.
- Batasi ketat: Makanan/minuman tinggi gula, camilan manis, serta makanan yang tinggi garam/natrium (seperti makanan instan dan junk food).
Yuk, Lebih Peduli! > Hipertensi bukan lagi penyakit "orang tua". Mari kita lebih peka, sempatkan untuk meminta dokter mengecek tensi si kecil saat jadwal imunisasi atau berobat. Mencegah jauh lebih baik daripada mengobati.
Bagaimana dengan anak Ayah dan Bunda di sini? Apakah di sekolahnya atau saat ke puskesmas sudah pernah rutin dicek tekanan darahnya? Yuk, saling berbagi cerita di kolom komentar!👇
Mau berobat ? Ingat Dokter Siaga