Pernah nggak sih kalian ngerasa pusing pas tiba-tiba berdiri, lalu refleks bilang, "Aduh, darah rendah nih!"? Atau pas lagi lemes dan kelihatan pucat, temen sebelah langsung nyeletuk hal yang sama.
Menariknya, di masyarakat kita, istilah "tensi rendah" dan "darah rendah" itu sering banget dianggap sebagai satu hal yang sama. Padahal, secara medis keduanya itu beda banget, lho! Yuk, kita bedah santai biar nggak salah paham lagi dan bisa lebih tepat penanganannya.
Tensi Rendah (Hipotensi): Masalah Tekanan Pompa
Bayangkan aliran darah di tubuh kita itu seperti air yang mengalir di dalam selang. Nah, tensi rendah atau hipotensi ini murni bicara soal tekanan alirannya. Kondisi ini terjadi kalau angka di alat tensimeter kalian menunjukkan hasil di bawah 90/60 mmHg.
Gejalanya yang paling khas adalah pusing berputar—terutama pas kalian mendadak berdiri dari posisi duduk atau tiduran. Selain itu, rasanya badan lemas, pandangan agak berkunang-kunang, mual, bahkan sampai keluar keringat dingin dan jantung berdebar.
Biasanya, tensi bisa drop karena hal-hal sepele yang sering kita abaikan, seperti kurang minum air putih alias dehidrasi, kurang tidur, stres, atau tubuh lagi kurang asupan nutrisi. Ada juga yang dipicu oleh gangguan hormon atau masalah jantung. Kalau kalian mengalami ini, langkah awal yang paling gampang adalah perbanyak minum air putih, pastikan istirahat cukup, makan tepat waktu, dan coba kelola stres dengan olahraga ringan atau meditasi.
Darah Rendah (Anemia): Masalah Kurang "Isi"
Kalau tensi rendah itu soal tekanan selangnya, nah darah rendah—atau istilah medisnya anemia—itu bicara soal kualitas atau jumlah isi di dalam selang tersebut. Lebih tepatnya, tubuh kalian kekurangan hemoglobin atau HB, yaitu protein di dalam sel darah merah yang tugasnya mengedarkan oksigen ke seluruh tubuh. Seseorang dikatakan anemia kalau kadar HB-nya di bawah 12 g/dL untuk perempuan, atau di bawah 13 g/dL untuk laki-laki.
Karena jaringan tubuh kekurangan pasokan oksigen, gejala yang muncul bikin wajah dan kelopak mata bagian dalam terlihat pucat. Badan juga rasanya lemas luar biasa, gampang lelah, sering sesak napas, jantung berdebar karena harus memompa lebih keras, dan bawaannya sulit buat konsentrasi.
Penyebab paling sering adalah kurangnya asupan zat besi, atau bisa juga karena kurang vitamin B12 dan folat. Selain itu, kehilangan darah (misalnya saat menstruasi berlebihan atau luka) serta adanya gangguan penyerapan nutrisi di usus dan penyakit kronis juga bisa jadi pemicunya. Cara mengatasinya tentu dengan memperbaiki "isinya", yaitu memperbanyak konsumsi makanan yang tinggi zat besi seperti daging merah dan sayuran hijau, mencukupi kebutuhan vitamin B12 dan folat, serta tetap menjaga istirahat yang cukup.
Kapan Harus Mulai Waspada dan Ke Dokter?
Meskipun keduanya sering kali bisa membaik dengan perbaikan pola hidup dan nutrisi di rumah, kita tetap nggak boleh anggap remeh ya.
Kalian harus segera menjadwalkan konsultasi dengan dokter kalau keluhan lemasnya nggak membaik sama sekali setelah dipakai istirahat, pusingnya terasa sangat berat sampai sering pingsan, atau kalau dada mulai terasa sesak disertai jantung yang berdebar secara berlebihan hingga mengganggu aktivitas sehari-hari.
Kenali gejalanya dengan baik supaya kita nggak salah ambil tindakan. Yuk, mulai hari ini lebih peka sama sinyal yang dikasih oleh tubuh kita sendiri demi kualitas hidup yang lebih sehat!
Menurut kalian, gejala mana nih yang paling sering kalian rasain belakangan ini? Boleh banget share cerita atau tanya-tanya di kolom komentar di bawah ya!
Mau berobat ? Ingat Dokter Siaga