Dunia kedokteran dan kesehatan publik Indonesia beruntung pernah memiliki sosok sedahsyat Dr. Endang Rahayu Sedyaningsih, MPH, DR.PH. Perempuan kelahiran 1 Februari 1955 ini bukan sekadar birokrat yang duduk di balik meja, melainkan seorang ilmuwan tangguh yang menyerahkan seluruh hidupnya demi tegaknya sistem kesehatan masyarakat di tanah air.

Perjalanan panjang dr. Endang dimulai sesaat setelah beliau lulus dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia (FKUI) pada tahun 1979. Setahun berselang, alih-alih memilih jalur karier yang nyaman di kota besar, beliau justru mengambil langkah berani dengan mengabdi di pelosok Nusa Tenggara Timur. Selama tiga tahun, dari 1980 hingga 1983, beliau memimpin Puskesmas Waipare. Pengalaman menemui realitas kesehatan di daerah terpencil inilah yang kemudian menempa empati dan kepekaannya terhadap isu-isu kesehatan masyarakat grassroot.
Haus akan ilmu demi kontribusi yang lebih besar, dr. Endang kemudian bertolak ke Amerika Serikat. Beliau berhasil menyelesaikan studi magister (MPH) hingga meraih gelar doktor (DR.PH) dari kampus sangat prestisius, Harvard School of Public Health. Rekam jejak akademis yang cemerlang ini membawanya masuk ke Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan (Badan Litbangkes) Departemen Kesehatan RI pada tahun 1997. Keahlian risetnya yang diakui dunia bahkan sempat membawa beliau dipercaya bekerja di Kantor Pusat WHO di Jenewa, Swiss, pada tahun 2001.
Puncak pengabdiannya di struktur negara terjadi pada 22 Oktober 2009. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menunjuk dr. Endang sebagai Menteri Kesehatan dalam Kabinet Indonesia Bersatu II. Di bawah nakhodanya, Kementerian Kesehatan fokus memperkuat fasilitas kesehatan dasar, mengetatkan benteng pencegahan penyakit menular, dan merajut fondasi jaminan kesehatan yang lebih ramah bagi masyarakat kurang mampu.
Di balik ketegasan profesionalnya, dr. Endang adalah seorang ibu dan istri yang hangat. Beliau menikah dengan dr. Reanny Mamahit—yang kita kenal juga pernah mengemban tugas sebagai Direktur RSUD Tangerang—dan dikaruniai tiga buah hati, yaitu Arinanda Wailan Mamahit, Awandha Raspati Mamahit, dan Rayinda Raumanen Mamahit.
Ujian terberat dalam hidupnya datang ketika dr. Endang didiagnosis menderita kanker paru-paru stadium lanjut di tengah masa jabatannya sebagai menteri. Namun, di sinilah totalitas seorang srikandi benar-benar diuji. Meski tubuhnya digerogoti sakit yang luar biasa, beliau tetap menjalankan tugas negara dengan senyuman hangat dan dedikasi yang sama sekali tidak mengendur.
Hingga pada akhirnya, demi memastikan roda organisasi Kementerian Kesehatan tetap berjalan maksimal tanpa terhambat oleh kondisi fisiknya, beliau mengajukan pengunduran diri pada 26 April 2012. Presiden SBY memberhentikannya dengan hormat pada 30 April 2012. Hanya berselang dua hari setelahnya, pada 2 Mei 2012 pukul 11.41 WIB, dr. Endang mengembuskan napas terakhirnya di RSCM Jakarta dalam usia 57 tahun.
Beliau berpulang menjelang siang itu, namun warisan pemikiran, standar integritas, dan ketulusan hatinya dalam merawat kesehatan bangsa akan selalu hidup dan terus menginspirasi kita semua di komunitas medis Indonesia.
Tambahan Informasi / Catatan Kaki untuk Profil Forum:
Sumber :
- Latar Belakang Pendidikan & Karier Litbangkes: Pusat Data dan Informasi Kementerian Kesehatan RI / Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kemenkes RI.
- Pengangkatan & Pemberhentian Menteri: Keputusan Presiden Republik Indonesia (Keppres) terkait Kabinet Indonesia Bersatu II (Oktober 2009 dan April 2012).
- Data Pengabdian di NTT & Studi Harvard: Arsip Kepustakaan Tokoh Indonesia dan Ikatan Alumni Universitas Indonesia (ILUNI FKUI).
- Catatan Medis & Wafatnya Beliau: Laporan Resmi Tim Dokter Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) serta rilis berita duka Sekretariat Negara RI tertanggal 2 Mei 2012.