Keputusan dicoretnya menu telur dadar (dan juga telur orek) dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) merupakan instruksi langsung dari Presiden Prabowo Subianto kepada mitra Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Alasan utamanya adalah untuk menghindari kecurangan porsi (aspek integritas distribusi) dan menjaga densitas gizi mikro serta makro yang diterima oleh anak-anak.
Target Satu Anak Satu Telur: Tujuan awal MBG adalah memastikan setiap anak mendapatkan hak satu butir telur utuh. Jika didadar secara massal, sangat mudah bagi oknum nakal untuk menggunakan (misalnya) hanya 5 butir telur namun membaginya menjadi 7 hingga 10 porsi setelah dicampur tepung.
Risiko Pengenceran Porsi: Presiden Prabowo menyoroti kebiasaan di Indonesia di mana telur dadar sering kali dicampur dengan bahan tambahan seperti tepung terigu, air, atau sayuran berlebih.
Oleh karena itu, pemerintah mewajibkan telur disajikan secara utuh dalam bentuk telur rebus atau telur ceplok (mata sapi) agar porsinya mutlak terpantau satu butir per anak.
Penurunan Densitas Protein (Protein Dilution)
Anak-anak sekolah membutuhkan asam amino esensial lengkap dari protein hewani untuk pertumbuhan sel otak dan otot. Telur adalah salah satu sumber protein dengan Biological Value (nilai biologis) tertinggi (hampir 100%, artinya hampir seluruh proteinnya bisa diserap tubuh).
Ketika telur dadar dicampur tepung, volume makanan memang bertambah besar, tetapi densitas (kepadatan) protein per gram makanan menurun drastis. Anak-anak menjadi cepat kenyang oleh karbohidrat kosong dari tepung, sebelum kebutuhan protein harian mereka tercapai.
Lonjakan Kalori Kosong dan Glikemik
Tepung terigu yang digoreng bersama telur dadar menyerap minyak jauh lebih banyak dibanding telur ceplok biasa. Hal ini menambah kalori dari lemak jenuh dan karbohidrat sederhana, yang jika dikonsumsi jangka panjang meningkatkan risiko obesitas anak (childhood obesity) tanpa memberikan zat gizi mikro yang dibutuhkan.
Kerusakan Nutrisi Akibat Suhu Tinggi (Denaturasi berlebih)
Proses mendadar telur melibatkan pengocokan yang memasukkan oksigen ke dalam adonan, lalu diratakan tipis di atas wajan panas. Permukaan yang luas dan tipis ini membuat telur dadar terpapar suhu panas minyak secara ekstrem.
- Hal ini dapat mempercepat kerusakan beberapa vitamin yang sensitif panas (seperti Vitamin B kompleks) dan memicu oksidasi kolesterol pada kuning telur.
- Sebaliknya, telur rebus melindungi nutrisi di dalam cangkang secara konstan pada suhu maksimal 100 derajat Celcius (titik didih air), menjaga kualitas protein dan lemak sehat di dalamnya tetap utuh.
Pelarangan telur dadar bukan karena telurnya yang buruk, melainkan untuk menutup celah manipulasi bahan pangan di lapangan. Dengan mewajibkan telur rebus atau ceplok, negara memastikan anak-anak mendapatkan profil nutrisi asli dari satu butir telur utuh tanpa “terkontaminasi” oleh karbohidrat pengisi (filler) seperti tepung.