Tiga tenaga kesehatan (nakes) yang terserang malaria terpaksa dievakuasi dengan berjalan kaki selama 12 jam dari Ainggogin menuju Kampung Banti, Distrik Tembagapura, Kabupaten Mimika.
Perjalanan penuh risiko ini dilakukan karena tidak tersedianya transportasi udara. Pesawat perintis mengalami kendala, sementara kontrak helikopter Dinas Kesehatan Mimika masih dalam proses lelang.
Dalam perjalanan, rombongan yang terdiri dari 10 nakes dan 5 porter harus menyeberangi 12 sungai tanpa jembatan, mendaki gunung berkabut selama berjam-jam, serta melintasi hutan belantara Papua yang minim akses permukiman.
Kondisi ini mendesak karena stok obat malaria dan alat Rapid Diagnostic Test (RDT) di Puskesmas Aroanop mulai habis. Selain itu, seorang nakes harus kembali ke Timika untuk mengikuti Prajabatan.
Kepala Puskesmas Aroanop, Fransiska Tekege, mengatakan keputusan berjalan kaki diambil demi keselamatan tenaga kesehatan dan keberlangsungan pelayanan kesehatan masyarakat pedalaman.
Kisah ini menjadi potret nyata tantangan pelayanan kesehatan di pedalaman Papua, khususnya Mimika, di mana keterbatasan transportasi masih menjadi hambatan utama bagi tenaga medis yang mengabdi di wilayah terpencil.
Sampai kapan tenaga kesehatan harus mempertaruhkan keselamatan mereka demi memastikan layanan kesehatan tetap hadir bagi masyarakat?
Baca berita selengkapnya hanya di Galeripapua.com